FENOMENA PENGEMIS DI MAKAM SUNAN KUDUS: Analisis Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 177 dan 273

Nailal Ilmi Wassa`adah, M. Bahrun Najih, Fatimatus Zahra, Annisa Rahmawati

Abstract


Abstract

This study focuses on the problem of beggars, especially in the area of the tomb of Sunan Kudus, because they cause unrest in society and disrupt public order and the comfort of pilgrims. This phenomenon is complicated because many beggars are healthy and able to work, but choose to beg as a job to meet their living needs. In addition, the presence of children who leave school to beg is also a concern. The purpose of this study is to study the phenomenon of beggars from the perspective of the Qur'an, especially verses 177 and 273 of the Al-Baqarah surah. The research method used is qualitative, with data collection carried out through direct observation interviews in the field. The interpretation of the Qur'an uses several books of interpretation of Al-Misbah, Ar-Razi's interpretation, At-Thabari's interpretation, Ibnu Kathir's interpretation. The results of the study show that beggars around the tomb of Sunan Kudus come from various levels of society, such as mothers who care for children, parents, and school-age children. The main factors that drive them to become beggars are economic, low education, and limited employment opportunities.  In the Qur'an, Surah Al-Baqarah verse 177, it is stated that giving wealth to those in need, including beggars (sa'il), is a form of giving and faith. On the other hand, in the Qur'an, Surah Al-Baqarah verse 273, it explains the recommendation to give alms to the poor who are fighting in the way of Allah by maintaining self-respect and not begging urgently. Islam does not prohibit begging as a job, especially for those who are able to work. The law of begging can be considered haram if it is done because of laziness or with the aim of taking advantage of others, but it is permitted if someone is unable to work due to physical disabilities and has no other way to survive, on condition that they do not force or humiliate themselves. Therefore, to overcome the problem of beggars in pilgrimage areas, a balanced solution is needed through order, a humane approach, and economic empowerment programs.

 

Abstrak

Penelitian ini berfokus pada masalah pengemis, terutama di wilayah makam sunan kudus, karena mereka meimbulkan keresahan di masyarakat dan mengganggu ketertiban umum dan kenyamanan peziarah. Fenomena ini menjadi lebih rumit karena banyak pengemis yang sehat dan mampu bekerja, tetapi memilih mengemis sebagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, adanya anak-anak yang meninggalkan sekolah untuk mengemis juga menjadi perhatian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari fenomena pengemis dari sudut pandang Al-Quran, khususnya ayat 177 dan 273 dari surah Al-Baqarah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara observasi langsung di lapangan. Penafsiran Al-Quran menggunakan beberapa kitab tafsir Al-Misbah tafsir Ar-Razi, tafsir At-Thabari, tafsir Ibnu Katsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemis di sekitar makam Sunan Kudus berasal dari berbagai tingkatan masyarakat, seperti ibu-ibu yang mengasuh anak, orang tua, dan anak usia sekolah. Faktor utama yang mendorong mereka menjadi pengemis adalah ekonomi., pendidikan yang rendah, dan keterbatasan lapangn pekerjaan. Dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 177 disebutkan bahwa pemberian harta kepada orang yang membutuhkan, termasuk peminta-minta (sa’il), merupakan bentuk pemberian dan kaimanan.di sisi lain, dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 273 menjelaskan tentang anjuran berinfak kepada fakir yang berjihad di jalan Allah denan menjaga kehormatan diri dan tidak meminta-minta secara mendesak. Islam tidak melarang mengemis sebagai pekerjaan, terutama bagi mereka yang mampu bekerja. Hukum mengemis bisa dianggap haram apabila dilakukan karena malas atau bertujuan memanfaatkan orang lain, tetapi diperbolehkan jika seseorang tidak mampu bekerja karena cacat fisik dan tidak ada cara lain untuk bertahan hidup, dengan syarat tidak memaksa atau menghinakan diri sendiri. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah pengemis di kawasan ziarah, diperlukan solusi yang seimbang melalui penertiban, pendekatan manusiawi, dan program pemberdayaan ekonomi.


Full Text:

PDF

References


Abdul Muiz. (2020). Mengemis dalam Perspektif Al-Qur’an Analisis Tafsir Al-Manar Karya Muhammad ‘Abduh dan Muhammad Rasyīd Ridha. Jurnal Waroqoh, 4, 12–13.

Alfajar, D. R., & Mashuri, M. M. (2022, Mei). Analisis Deskriptif Nilai-Nilai Kebaikan dalam Qs. Al-Baqarah Ayat 177. Jurnal Mafhum, 47-52.

At-Tabari, A. J. M. bin J. (2010). Jami’ul Bayan an Ta’wilil Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr

Fajrussalam, H., Rahmawan, D. P., Fatimah, G. N., Afifah, J. N., & Arifah, S. A. (2023). Alih Fungsi Pengemis: dari Pengangguran Menjadi Profesi. Bagaimana Islam Memandang Hal Tersebut?. ILMA (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Keagamaan, 21-25.

Febriyanto, A. (2023). Kajian Sosial Pengemis di Kawasan Makam Sunan Gunung Jati.

Hidayati, N. (2020). Pengaruh Pendidikan Terhadap Perilaku Anak Jalanan di Kota X. Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat, 5(2), 123-134.

Ibnu Katsir. (2003). Tafsir Ibnu Katsir. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.

M. Isa Yusuf. (n.d.). Nilai-Nilai Pendidikan dalam al-Qur’an (Kajian Surat Al-Baqarah Ayat 177). UIN Ar-Raniry. file:///C:/Users/Hype GLK/Downloads/10638-28853-1-SM (1).pdf

Muhammad bin Mukarrom bin Ali. (2010). Lisanul Arab. 11.

Muhammad Husin. (2019). Pengemis dalam Perspektif al-Qur’an (Kajian Tematik Atas Ayat-Ayat Pengemis). In Digibli UIN SUKA. https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/49025/#:~:text=Islam menempatkan pengemis sebagai subjek,perbuatan baik (amal shaleh).

Munawwir, A. W. (2025). Kamus Al-Munawwir Arab Indonesia.

Putri, L. A., & Santoso, B. (2023). Fenomena Pengemis dan Dampaknya terhadap Ketertiban Umum di Kawasan Wisata. Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya, 10(2), 112-125.

Rafli, M., Hamzah, S., & Rafif, A. A. (2017). Makna Sa`il Dalam Al-Qur`an: Tujuan Implisit Pengentasan Pengemis dalam Ayat-Ayat Sai’l dan Aktualisasinya. Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur`an dan Hadis.

Rahman, F., & Utami, S. (2020). Pengaruh Tingginya Angka Pengangguran Terhadap Mobilitas Penduduk Perkotaan. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, 15(3), 78-89.

Rahmawati, D., & Putra, A. (2021). Peran Orang Tua dalam Mencegah Anak Terjerumus dalam Perilaku Negatif. Jurnal Psikologi Pendidikan, 9(3), 78-89.

Ramadona. (2024, Desember). Term Sa`Il Dalam Al-Qur`An (Analisis Semiotika Ferdinand De Saussure). Al-Kauniyah: Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir, 28-46.

Rezanda Akbar D. (2023). Pengemis di Kawasan Menara Kudus Bikin Risih Peziarah Jelang Malam 1 Suro. Tribun Jateng.Com. https://jateng.tribunnews.com/travel/shopping

RI, K. A. (2012). Al-Qur’an dan Pemerdayaan Kaum Dhuafa (1st ed.). Perpustakaan Nasional RI.

Sari, N. M., & Wibowo, A. (2022). Faktor-Faktor Penyebab Pengangguran di Indonesia dan Dampaknya. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik, 9(4), 134-147.

Semantik, T., & Toshihiko, P. (2024). Makna Sa ’il dalam al-Qur ’an.

Shihab, M. Q. (n.d.). Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an (Vol. 1). Jakarta: Lentera Hati.

Sholahuddin, M. A. (2023). Respon Al-Qur’an Terhadap Pengemis: Analisis Qs. Al-Baqarah Ayat 273 Perspektif Ma’na Cum Maghza. IAIN Kudus Repositori. http://repository.iainkudus.ac.id/12625/1/1. COVER.pdf

Wijayanti, C. M., Wijaya, D., Wulandari, D. T., Jhosha, D., Putri, D. M., Cahyaningsing, D. O., et al. (2024, Juli). Fenomena Pengemis di Kawasan Ziarah Makam Sunan Gunung Jati dan Dampaknya pada Masyarakat.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.